Foto oleh Дмитрий Трепольский dari Pexels

Analisis Dampak Perang Ukraina-Rusia terhadap Ekonomi Indonesia

Perang yang terjadi di Ukraina sejak 24 Februari 2022 antara Rusia dengan Ukraina menimbulkan kerugian yang besar. Kerugian materil, moril, jiwa, dan tentu saja harta benda. Perang Ukraina Rusia terjadi setelah presiden Vladimir Putin mengakui kemerdekaan Republik Luhansk dan Republik Donetsk yang merupakan wilayah Ukraina. Hingga saat ini, banyak Negara-negara didunia menjatuhkan sanksi ekonomi ke Rusia. Sanksi ekonomi yang dijatuhkan beragam. Sebagai salah satu negara adidaya, sanksi ekonomi yang diterima Rusia akan berdampak juga kepada negara-negara lain. Berikut kami ulas Analisis Dampak Perang Ukraina-Rusia terhadap Ekonomi Indonesia

Sanksi yang diberikan Amerika Serikat terhadap Rusia akan berpengaruh terhadap komoditas ekspor Rusia. Sebagai negara dengan eksportir teknologi dan energi sanksi yang diberikan akan berpengaruh terhadap harga komoditas tersebut. Ukraina adalah negara penghasil gandum dan jagung terbesar dieropa. Dampak Perang, mengurangi ketersediaan pangan di eropa dan dunia. hal tersebut juga berdampak terhadap ekonomi Indonesia. Berikut kami ulas Analisis Dampak Perang Ukraina-Rusia terhadap Ekonomi Indonesia

Latar Belakang Perang Rusia dan Ukraina

Penyebab perang Ukraina Rusia dimulai dari awal pembentukannya. Sebelumnya Rusia dan Ukraina merupakan satu negara dengan nama Uni Soviet. Pada 1991, Uni Soviet bubar dan Ukraina mengajukan referendum. Terbentuklah Negara Ukraina. Ukraina dan Belarusia bergabung dalam sebuah aliansi CIS (Commonwealth of Independent State).

Ukraina menganggap aliansi tersebut hanya sebagai wadah bagi Rusia untuk mengendalikan negara-negara bekas soviet. Puncaknya terjadi ditahun 2014, setelah terjadi kudeta massa anti pemerintah terhadap presiden Viktor Yanukovych yang dianggap pro-Rusia serta membuka keinginan Ukraina untuk bergabung dengan aliansi NATO yang merupakan aliansi kontra Rusia. Saat Viktor Yanukovych jatuh, Rusia mencaplok krimea.

Sejak 1999, nato mulai memperluas keanggotaannya hingga kewilayah bekas pecahan Uni Soviet yang berbatasan langsung dengan Rusia seperti Estonia, Latvia, dan Lithuania. Bagi Rusia hal tersebut merupakan ancaman. Pada 2008, NATO menjajikan keanggotaan NATO kepada Ukraina suatu hari nanti. Pada 2014, akibat pencaplokan wilayah krimea membuat Ukraina ingin bergabung dengan NATO secepatnya. Karena bergabung dengan NATO, akan memberikan jaminan keamanan dari Amerika Serikat dan Negara-neraga NATO lainnya. Selain itu, memungkinkan NATO untuk mengerahkan militer ke Ukraina jika diserang oleh Rusia, karena jaminan keamanan kolektif yang merupakan hak bagi Negara anggota NATO dari para anggotanya.

Pada 15 Februari 2022, Presiden Ukraina Volodymyr Zelensky ingin negaranya bergabung dengan NATO. “Tentu saja, kami ingin menjadi anggota NATO. Itu diatur dalam konstitusi Ukraina,” kata Zelensky saat konferensi pers bersama Kanselir Jerman Olaf Scholz, seperti dilansir dari Sky News, Selasa 15 Februari 2022. Disi lain, Presiden Rusia, Vladimir Putin sangat menentang hal tersebut karena akan menggangu keamanan Rusia. Bahkan Presiden Vladimir mengatakan jika ukraina bergabung dengan NATO dan berupaya merebut Krimea maka perang bisa pecah.

“Anda ingin Prancis melawan Rusia? Itulah yang akan terjadi jika Ukraina gabung dengan NATO dan mencoba menerapkan kebijakan negaranya untuk mengintegrasikan kembali Krimea dengan paksa.” Kata putin.

Selain masalah keanggotan Ukraina di NATO, masalah pengakuan kemerdekaan Republik Rakyat Luhanks dan Republik Rakyat Donetsk oleh Rusia dan de-nazifikasi rezim Ukraina menjadi alasan Rusia menyerang Ukraina. Menurut dubes Rusia untuk Indonesia, Lyudmila Vorobyova istilah Nazi dalam konteks ini adalah ideologi Ukraina Pro-Barat yang berkuasa sejak 2014 menyebarkan russo-phobia dan banyak kebijakan Ukraina yang mengandung ideologi anti Rusia.

Walaupun demikian, perang tidak dapat dibenarkan sebagai pembenaran untuk menyelesaikan masalah. Tetap harus mencari jalan damai dan mengedepankan nilai-nilai kemanusiaan.

Sanksi Ekonomi yang Dijatuhkan Barat ke Rusia & Implikasinya

Pada 24 Februari 2022, Rusia akhirnya melakukan penyerangan ke Ukraina. Hal ini tidak diduga-duga oleh banyak pihak dan menjadi ke-khawatiran bagi seluruh dunia karena memungkinkan terjadinya perang dunia ketiga. Amerika Serikat dan Negara-negara NATO yang mendukung Ukraina namun tidak berani untuk bertindak secara militer dengan mengirimkan pasukan dan persenjataan berat ke Ukraina karena Rusia mengancam akan menggunakan kekuatan nuklir. Amerika Serikat dan NATO akhirnya menjatuhkan sanksi kepada Rusia dalam bentuk sanksi dibidang ekonomi, olahraga, antariksa, dan dibidang lainnya.

Pada hari pertama perang Rusia Ukraina, Bursa saham Rusia rontok hingga 33% pada penutupan perdagangan 24 Februari 2022. Dalam sehari, diperkirakan sekitar $70 miliar nilai saham pasar modal Rusia menguap. Banyak dana asing yang cabut dari bursa saham rusia karena invasi Rusia ke Ukraina. DiIndonesia, IHSG ikut tertekan dari level 6.920 ke level 6.817 turun 103 point.

Dibidang ekonomi Amerika Serikat dan sekutunya menjatuhkan berbagai sanksi kepada Rusia, antara lain:

1. Pemutusan Hubungan Bank-Bank Rusia dari Sistem SWIFT

SWIFT adalah system yang merupakan jantung perbankan internasional. SWIFT merupakan singakatan dari Society for Worldwide Interbank Financial Telecommunication (Masyarakat Telekomunikasi Keuangan Antar Bank Seluruh Dunia). SWIFT adalah jaringan perpesanan yang digunakan oleh institusi keuangan diseluruh dunia untuk mengirimkan informasi dan instruksi secara aman melalui system kode terstandarisasi.

Saat ini system keuangan dunia menggunakan SWIFT sebagai system pembayarannya. Pemblokiran sejumlah bank Rusia dari system SWIFT menyebabkan terputusnya transaksi penerimaan dana dari dan ke luar negeri. Hal ini secara langsung melumpuhkan ekonomi Rusia. Beberapa contoh dampaknya, pekerja di Rusia yang menerima penghasilan dari luar negeri tidak dapat menarik uangnya, turis-turis Rusia di luar negeri yang sedang berlibur tidak bias menarik uangnya, dan transaksi ekspor dan import Rusia terganggu.

Untuk mengurangi dampak dari pemblokiran SWIFT, saat ini Bank Rusia memiliki system pembayaran sendiri. Meskipun hanya memiliki 23 bank asing asing yang terhubung, 20% transaksi internal telah dilakukan melaluinya. Bank-bank Rusia juga berencana untuk mengeluarkan kartu menggunakan system UnionPay China, dengan Sberbank dan Alfa-Bank mengatakan mereka sedang mengerjakan peluncuran kartu UnionPay. Pelarangan bank-bank Rusia dari system SWIFT mengkhawatirkan kritikus akan mendorong Rusia dan China Bersama-sama mengikis supremasi system keuangan global berdenominasi dollar.

2. Sebanyak 250 perusahaan Asing tarik diri dari Rusia

Sanksi lainnya yang diberikan oleh perusahaan-perusahaan barat untuk mendukung Ukraina dalam perang Ukraina-Rusia yaitu dengan menarik diri dari ekonomi Rusia. Dikabarkan bahwa terdapat 250 perusahaan asing Tarik diri dari Rusia. Tercatat perusahaan yang Tarik diri dari Rusia seperti Apple, Boeing & Airbus, Ferrari, Harley Davidson, Adidas, McDonalds, H&M, IKEA, dan masing banyak lagi.

Menurut Moskow Times penutupan tersebut akan menyebabkan puluhan ribu kehilangan pekerjaan secara langsung bagi staf local Rusia dan merupakan visualisasi nyata dari isolasi internasional. Tentu saja hal ini akan berdampak langsung pada ekonomi Rusia. Pada 7 maret 2022, nilai tukar rubel jatuh ke titik terendah. Dilevel 139 Rubel per Dollar AS. Bank Sentral Rusia memperkirakan Inflasi akan meningkat menjadi 20 persen dan ekonomi bias turun sebanyak 8% pada tahun ini.

Dilain sisi, Presiden Vladimir putin telah menyusun rencana untuk menyitas asset perusahaan internasional yang meninggalkan Rusia dan melakukan eksodus bisnisnya keluar dari Rusia. Kementerian Ekonomi negara tersebut mengatakan dapat mengambil kendali sementara atas bisnis yang keluar dimana kepemilikan asing melebihi 25 persen.

3. Embargo Komoditas dari Rusia

Amerika dan negara-negara sekutunya menjatuhkan sanksi embargo terhadap komoditas-komoditas dari Rusia. Baik komoditas energy maupun non-energy. Embargo adalah larangan dari pemerintah terkait kegiatan ekspor-import suatu komoditas tertentu. Dalam hal ini Amerika dan sekutunya melarang import barang-barang dari Rusia untuk menekan Moskow untuk mengakhiri perang di Ukraina. Tercatat negara-negara yang melakukan embargo komoditas dari Rusia seperti Amerika Serikat, Inggris, Jerman, Uni Eropa, Kanada, Taiwan, Australia, Jepang, dan Bahkan Singapore.

Beberapa contoh embargo komoditas dari Rusia sbb:

  • Amerika Serikat : Bidang ekspor impor, ekspor ulang, serta penjualan dan penyediaan barang, serta layanan dan teknologi langsung maupun tak langsung dari wilayah Rusia. Contohnya adalah semikonduktor. Bahkan, amerika juga melarang import vodka dari Rusia.
  • Uni Eropa : melarang ekspor barang yang digunakan secara dua arah termasuk computer, peralatan telekomunikasi dan semikonduktor, serta pesawat dan suku cadang penerbangan.
  • Taiwan : Taiwan mengatakan akan mengentikan ekspor semikonduktor, suku cadang yang penting bagi industry di Rusia.
  • Singapura : singapura akan menolak semua permohonan izin yang melibatkan semua barang yang terdaftar sebagai barang militer, elektronik, computer, dan produk telekomunikasi dan keamanan informasi yang dikirim ke Rusia.
  • Dan masih banyak lagi sanksi embargo dari negara-negara lain.

Akibat embargo tersebut, terkadang juga berdampak kepada Amerika sendiri. Dimitry Rogozin, CEO Roscosmos, saat wawancara dengan jaringan televisi Rossiya-24, menegaskan perusahaannya tak lagi memasok roket untuk NASA.

“Dalam situasi ini, kami tidak dapat lagi memasok AS dengan mesin roket kami yang terbaik di dunia. Biarkan mereka terbang dengan sesuatu yang lain, seperti sapu atau apa pun,” kata Rogozin, menurut kantor berita Interfax.

Stasiun Luar Angkasa Internasional (ISS) juga terancam jatuh dengan kecil kemungkinan jatuh ke Rusia, hal ini karena segmen Rusia memastikan bahwa orbit stasiun dibetulkan rata-rata 11 kali setahun dengan roket Soyuz yang diluncukan dari Baikonur kosmodrom Kazakhstan, termasuk untuk menghindari puing-puing luar angkasa.

4. Embargo Energi dari Rusia (Minyak dan Gas Alam)

Sanksi embargo disektor energi yang dilakukan oleh Amerika Serikat, Uni Eropa dan berbagai negara lainnya diantaranya embargo minyak mentah dan gas alam. Pada 8 maret 2022, presiden Joe Biden mengumumkan bahwa AS akan melakukan embargo terhadap energi Rusia. Menghentikan import minyak bumi, gas alam, dan batu bara dari Rusia.

Disisi lain, banyak suara-suara yang menyerukan penolakan embargo energi dari uni eropa. Anggota parlemen Prancis dan kandidat Presiden Marine Le Pen mengatakan bahwa jika Uni Eropa (UE) melakukan embargo terhadap pasokan minyak Rusia, itu sama saja dengan ‘harakiri’. Kanselir Jerman Olaf Scholz, menentukan seruan yang melarang import migas dari Rusia sebagai bagian dari sanksi barat terhadap moskow.

Kebijakan embargo energi oleh Amerika Serikat sangat berpengaruh terhadap banyak negara. Terutama negara-negara yang menggantukan kebutuhan energinya dari import seperti Indonesia, dan uni eropa. Embargo energi menyebabkan kenaikan harga minyak & gas yang juga akan berdampak terhadap inflasi harga barang dan kebutuhan pokok serta pertumbuhan ekonomi.

Pada senin 7 Maret 2022, gas eropa acuan TTF Belanda naik signigikan lebih dr 60% dan mencapai rekor tertinggi sepanjang masa di level 345 euro per megawatt jam dan gas Inggris mencapai puncak sepanjang masa seharga 800 pence atau setara US$10,55 per therm. Sementara, minyak mentah Brent North Sea melonjak mendekati US$140 per barel dan mendekati level tertinggi 14 tahun. Dalam sebuah artikel dikanal ekonomi.bisnis, harga batu bara diperkirakan bias tembus $500 per ton.

Disisi lain, ancaman embargo gas oleh Rusia ke Uni eropa melalui penghentian suplai gas di jaringan pipa Nord Stream tentu akan membuat harga gas semakin tinggi. Hal ini bias menjadi blunder bagi negara-negara Eropa.

5. Pembekuan asset milik bank-bank Rusia, orang kaya Rusia dan Orang dekat Vladimir Putin

Banyak negara-negara didunia menjatuhkan sanki terhadap Rusia dengan membekukan asset orang-orang penting dan Lembaga-lembaga keuangan penting. Seperti Vladimir Putin, pejabat dan anggota parlemen Rusia, Orang Kaya, Orang-orang yang dekat dengan Putin, dan orang-orang Rusia yang terkenal.

Salah satunya Roman Abramovich yang merupakan pemilik Klub sepakbola Chelsea FC. Selain pembekuan aset dan larangan bepergian, Roman Abdramovich juga dilarang melakukan transaksi bisnis di Inggris, meski baru-baru ini oligarki asal Rusia itu berencana menjual klub Chelsea FC.

Uni Eropa menjatuhkan sanki bagi miliarder Rusia terkait invasi Rusia ke Ukraina. Pihak berwenang Italia menyita kapal pesiar milik miliarder Rusia, Andrey Melnichenko. Kapal pesiar yang disita merupakan salah satu kapal terbsesar didunia dengan nilai $578 Juta atau sekitar 8,2 Triliun.

Dampak sanksi ekonomi Rusia bagi Indonesia

Perang Rusia-Ukraina memicu gelombang protes dari negara-negara Barat sehingga memicu perang ekonomi oleh Barat tentunya berpengaruh juga terhadap ekonomi negara-negara didunia baik secara langsung maupun tidak langsung. Dampak secara langsung, terhambatnya ekspor komoditas dari Ukraina akan mempengaruhi harga dan dampak tidak langsung yaitu dari perang ekonomi yang membuat harga minyak dan gas bumi terus naik sehingga membebankan negara-negara lain yang bergantung pada minyak dan gas. Salah satunya Indonesia.  Dampak perang Rusia-Ukraina terhadap ekonomi Indonesia kami rinciakan sebagai berikut :

1. Dampak perang Rusia-Ukraina terhadap IHSG

Saat perang dimulai pada 24 Februari 2022, IHSG dan bursa asia lainnya kompak mengalami penurunan namun tidak terlalu dalam. IHSG turun 102.2 point (1.48 persen) ke level 6.817,82, Nikkei 1,8 persen, Hang Seng Hong Kong 3,2%, Shanghai Komposit 1,7 persen. Menurut fikri dikutip dari laman kompas, efek perang Rusia-Ukraina terhadap pasar modal Indonesia akan bersifat temporer. Karena fundamental ekonomi Indonesia cukup baik dan hubungan langsung ekonomi Indonesia, Rusia, dan Ukraina relative kecil. Terbukti di Jumat 11 Maret 2022 ihsg kembali ke level 6.922,6.

Ditengah pelemahan IHSG, Saham-saham LQ45 disektor energi melesat. Investor telah memperkirakan perang Rusia-Ukraina akan berdampak kepada meningkatnya harga komoditas energi seperti minyak, gas alam, dan batu bara.

2. Dampak Embargo Energi bagi ekonomi Indonesia

Sanksi ekonomi yang dijatuhkan kepada Rusia salah satunya embargo energi. Dalam hal ini komoditas minyak, gas alam, dan batu bara. Embargo energi menyebabkan kenaikan-kenaikan harga komoditas tersebut.

Indonesia merupakan salah satu eksportir batu bara terbesar didunia. Kenaikan harga batu bara akan menguntungkan Indonesia dan diperkirakan akan meningkatkan cadangan devisa negara melalui pendapatan negara bukan pajak dari royalti batubara.

Disisi lain, kenaikan harga minyak mentah dan gas alam menjadi efek yang ditakutkan, karena meningkatkan resiko fiscal dan moneter. Indonesia adalah negara net importir minyak dan gas bumi. Net importir artinya Indonesia lebih banyak impor migas daripada ekspor. Sehingga kenaikan harga migas dunia akan menyebabkan kenaikan harga minyak dan gas di Indonesia. Artikel yang diterbitkan ekonomi.bisnis menyebutkan pada 2021 pemerintah gelontorkan Rp. 54.4 Triliun untuk subsidi minyak dan gas. Ditahun tesebut harga minya sekitar $60 per barel. Perang Rusia-Ukraina menyebabkan harga minyak tembus hingga $130 perbarel tentunya sangat memberatkan APBN.

Minyak dan gas adalah salah satu komponen dasar yang menyusun struktur biaya suatu barang. Berbagai industri baik sekala besar maupun UMKM sangat membutuhkan minyak dan gas untuk memproduksi barang jadi. Naiknya harga minyak dan gas, maka biaya produksi barang akan naik dan biaya transportasi juga akan naik. Pada akhirnya, harga barang pokok akan naik dan menyebabkan inflasi. Kenaikan minyak dan gas akan memiliki multiple effect. Harga barang yang tinggi, tapi harga beli masyarakat tidak berubah tentu akan membuat masyarakat semakin sulit ditambah pandemic corona yang belum berakhir.

Dampak perang Rusia-Ukraina terhadap komoditas-komoditas tertentu

Komoditas-komoditas tersebut yang harganya ikut melambung tinggi akibat Perang Rusia-Ukraina yaitu seperti emas, gandum, jagung dan komoditas lainnya. Emas adalah asset paling likuid dan beresiko rendah serta mudah dicairkan kapan saja. Ketakutan akan perang dunia ketiga mengerek harga emas hingga kelevel tertinggi.

Untuk komoditas pangan seperti gandum, jagung, kedelai, dan pupuk masih terkendali. Hal ini karena import komoditas pangan tersebut dari Ukraina dan Rusia tidak signifikan terhadap presentase import. Walaupun begitu, perlu untuk mencari pemasok lain untuk menghindari dampak kelangkaan barang jika perang terus berlanjut.

Julius

Finance & IT Enthusiast - Finance at start up company who interested in IT, Investing, and Business. Follow our media social to get latest update.

2 thoughts to “Analisis Dampak Perang Ukraina-Rusia terhadap Ekonomi Indonesia”

Leave a Reply

Your email address will not be published.