Photo by Monstera from Pexels

Manajemen Resiko bisnis: Apa, Jenis, Mencegah dan Menanggulangi Dampaknya

Resiko adalah kejadian yang mungkin terjadi tidak sesuai harapan dan bahkan mungkin menimbulkan kerugian karena resiko memiliki unsur ketidakpastian. Resiko selalu melekat pada diri manusia sejak manusia lahir sampai meninggal. Bahkan meninggalpun manusia masih dihadapkan ketidakpastian kapan dan bagimana akan meninggal . Manusia tidak bisa tahu apa yang akan terjadi  dalam satu tahun kedepan atau beberapa tahun kedepan sehingga kemungkinan burukpun bisa terjadi. Oleh karena itu, kita perlu memahami Manajemen Resiko bisnis: Apa, Jenis, Mencegah dan Menanggulangi Dampaknya sehingga tidak menimbulkan kerugian yang besar.

Begitupun dengan perusahaan. Dalam menjalankan bisnisnya resiko bisa saja terjadi tanpa diduga-duga yang berdampak pada kerugian baik material ataupun non-material. Contohnya dalam pengiriman barang ke klien melalui jalur laut, kapal tenggelam sehingga menimbulkan kerugian. Sehingga manajemen perusahaan akan senantiasa memahami jenis resiko, menganalisis resiko, dan menanggulangi dampak yang akan ditimbulkan demi keberlangsungan usaha.

Era pandemic dan perang yang berlangsung di Ukraina dan Rusia seperti saat inipun memiliki resiko ekonomi bagi kita sebagai warga Negara Indonesia. Resiko inflasi terhadap bahan pokok meningkat karena sulitnya mencari pekerjaan di era pandemic, kenaikan harga minyak dunia, dan karena perubahan rate PPN menjadi 11% yang berlaku 1 April 2022.Perusahaan dalam menjalankan bisnis juga dihadapkan dengan berbagai resiko atau ketidakpastian yang mungkin ditimbulkan sehingga memungkinkan terjadinya kerugian. Kerugian yang besar bahkan bisa membuat perusahaan pailit.

Apa saja resiko-resiko bisnis yang mungkin terjadi

Menjalankan bisnis tentu memiliki resiko. Baik resiko dari dalam perusahaan sendiri maupun diluar perusahaan. Resiko perusahaan tergantung jenis perusahaan. Berikut kami rangkum beberapa contoh resiko-resiko bisnis yang mungkin terjadi bagi perusahaan:

  1. Resiko piutang tak tertagih.
    seringkali customer membeli barang diperusahaan dengan cara kredit. Barang dikirim ke klien dahulu, pembayaran dilakukan nanti. Resiko piutang tak tertagihpun muncul. Manajemen biasanya memiliki SOP dalam persetujuan pembayaran barang secara kredit dan biasanya hanya diberikan kepada customer-customer yang terbukti membayar tepat waktu atau melalui pihak ketiga seperti pihak bank yang menyediakan pembayaran dengan kartu kredit. Jika piutang tak tertagih nilainya besar tentu akan berdampak bagi operasional perusahaan.

  2. Resiko malpractice di Industri Rumah sakit
    Dokter yang bekerja dirumah sakit adalah manusia. Sebagai manusia, kemungkinan terjadi kesalahan dan kelalaian dalam menjalankan tugasnya adalah mungkin. Sehingga, resiko dokter untuk dituntut atas kelalaian yang menyebabkan cidera mental, sakit, penyakit atau kematian pasien dalam menjalankan tugasnya bisa saja terjadi. Jika dokter kalah dalam persidangan tentu akan menimbulkan kerugian yang material.
  3. Resiko kecelakaan bagi industri PO Bus
    Dalam menjalankan bisnisnya, PO Bus memiliki bus yang dikemudikan oleh karyawan-karyawannya. Bus merupakan asset pokok dengan harga hingga miliaran rupiah. Resiko yang mungkin terjadi adalah kecelakan. Kecelakaan yang menyebabkan bus tidak dapat digunakan tentu adalah kerugian yang material.

Bagaimana Perusahaan Mengelola Resiko Bisnis?

Di Indonesia, belum ada perusahaan yang memiliki manajer atau perusahaan khusus yang menangani pengelolaan resiko secara keseluruhan yang dihadapi perusahaan. Biasanya, manajemen perusahaan yang akan senantiasa melakukan analisis, deteksi, dan prevensi resiko-resiko yang timbul agar tidak berpengaruh secara material terhadap keberlangsungan usaha.

Manajemen resiko memiliki fungsi-fungsi sebagai berikut:

  1. Menemukan kerugian potensial yang mengancam keberlangsungan usaha atau bersifat material
  2. Mengevaluasi kerugian potensial. Maksud mengevaluasi adalah menilai frekuensi dan tingkat kegawatan dari tiap-tiap kerugian
  3. Memilih dan menentukan langkah pencegahan dan penanggulangan kerugian yang timbul dari aktivitas usaha. Baik oleh pihak didalam perusahaan itu sendiri maupun diluar perusahaan.

Perusahaan melakukan pengelolaan resiko dengan cara-cara sebagai berikut:

  1. Identifikasi tujuan pengelolan resiko, kemungkinan terjadinya kerugian (peril), dan resiko yang dihadapi perusahaan
  2. Evaluasi besarnya kerugian potensial. Baik secara frekuensi maupun tingkat kegawatan
  3. Mencari cara yang paling baik, tepat, ekonomis, dan tepat dalam menyelesaikan masalah yang terjadi atau kemungkinan resiko yang ada.
  4. Akomodir dan implementasi keputusan yang telah ditetapkan
  5. Mengadministrasikan, memantau, dan evaluasi keputusan yang telah dijalankan

Contoh sederhana bagaimana perusahaan mengelola resiko misalnya piutang tak tertagih. Manajemen menemukan adanya piutang tak tertagih. Kemudian manajemen akan mengevaluasi potensi kerugian apakah material atau tidak. Setelah dievaluasi ternyata nilainya cukup material manajemen akan menganalisis penyebabnya dan mencari cara yang tepat dan ekonomis untuk menurunkan potensi kerugian akibat klien gagal bayar. Jika masalahnya karena customer tidak jujur akan kemampuannya dalam membayar hutang, perusahaan bisa menggunakan pihak ketiga. Dalam hal ini bank sebagai penjamin. Dimana perusahaan hanya menerima cicilan atau paylater melalui kartu kredit yang dijamin bank.

Jenis-Jenis Resiko Bisnis

Jenis-jenis resiko jika diklasifikasikan berdasarkan sifatnya adalah sebagai berikut:

  1. Resiko Spekulatif (Speculatif Risk)
    Adalah resiko yang menimbulkan penyimpangan dari kejadian sesungguhnya atau yang diharapkan. Dalam resiko ini ada kemungkinan kerugian atau keuntungan. Contohnya resiko hutang piutang, investasi saham, dll.
  2. Resiko Murni (pure risk)
    adalah resiko yang terjadi atas factor ketidak sengajaan. Contohnya: Kebakaran, gempa bumi, pencurian, kecelakaan, dan sebagainya.
  3. Resiko Fundamental
    Adalah resiko yang dirasakan bukan hanya satu orang tapi beberapa orang sekaligus. Contohnya banjir dan gempa bumi.
  4. Resiko Dinamis
    Adalah resiko yang terjadi akibat perkembangan dan dinamika masyarakat diberbagai bidang. Contohnya resiko keuangan, resiko inflasi, dan lain-lain

Cara Menanggulangi dan Mencegah Resiko Bisnis

Resiko-resiko yang dihadapi perusahaan apabila terjadi akan berdampak kepada perusahaan. Jika dampaknya material mungkin akan mengganggu operasional dan keuangan perusahaan. Dalam jangka panjang bisa saja membuat perusahaan bangkrut atau pailit. Untuk menanggulangi dan mencegah dampak yang lebih merugikan atas resiko yang terjadi, bisa dilakukan dengan cara mengalihkan resiko ke pihak lain atau dengan merancang pengendalian internal perusahaan untuk mencegahnya.

Secara umum untuk menanggulangi dan mencegah resiko perusahaan akan melakukan cara-cara sebagai berikut:

  1. Menghindari Resiko (Risk Avoidance)
    Menghindari resiko yang mungkin terjadi adalah hal yang bisa kita lakukan jika resikonya sudah jelas dan kita paham akan situasi yang terjadi. Contoh dari risk avoidance adalah jika piutang tak tertagih dari metode pembayaran installment adalah besar. Menghapus pembayaran installment adalah contoh risk avoidance.
  2. Mengendalikan kerugian (Risk Reduction)
    Pengendalian kerugian adalah cara jika perusahaan melihat resiko tidak bisa dihindari. Jadi perusahaan akan berusaha mengendalikan kerugian seminimal mungkin ketingkat yang mampu ditanggung perusahaan. Contohnya adalah system pemadam kebakaran di area gudang perusahaan. Ini akan mengurangi resiko kebakaran yang terjadi membesar tak terkendali.
  3. Pemisahan (segregation)
    Adalah cara mencegah resiko dengan cara memisahkan orang atau barang yang dapat menyebabkan kerugian. Misalnya: pekerja pabrik tekstil dilarang makan dan membawa makan ke meja kerja. Karena akan mengotori pakaian yang sedang diproduksi.
  4. Kombinasi atau Pooling
    Menambahkan banyaknya exposure unit dalam kendali perusahaan dengan tujuan agar kerugian yang mungkin dialami bisa diprediksi sehingga mengurangi resiko. Contohnya: perusahaan asuransi mengkombinasikan berbagai resiko untuk menanggung resiko murni sejumlah orang.
  5. Pemindahan Resiko (Risk Transfer)
    Adalah cara pengendalian resiko dengan memindahkan resiko ke pihak ketiga atau pihak lain. Sehingga yang bertanggung jawab atas kerugian adalah pihak tersebut. Cara ini biasanya dengan meng-asuransikan resiko sehingga jika terjadi resiko maka ditanggung asuransi. Misalnya : kebakaran dan kecelakaan. Rumah dan mobil yang mengalami resiko tersebut akan dijamin oleh asuransi sehingga asuransi akan membayar kerugiannya. Selain asuransi, pemindahan resiko secara transfer bisa dilakukan dengan merekrut karyawan secara outsorcing. Dengan merekrut outsorcing, maka secara hukum dan kewajiban akan menjadi tanggung jawab pihak ketiga. Sehingga perusahaan dapat dibebaskan dari tuntutan ketenagakerjaan.
  6. Meretensi (Risk Retention)
    Risk retention adalah penanganan resiko dengan cara menanggung sendiri kerugian dan tanggung jawab oleh perusahaan. Ini bersifat pasif dan tidak direncanakan. Ini dilakukan jika sudah tidak ada pilihan. Contohnya adalah ketika gudang perusahaan mengalami kebakaran dan belum diasuransikan. Maka perusahaan akan mencatat itu sebagai kerugian perusahaan sendiri dan perusahaan menanggung resiko sendiri. Jika kerugiannya besar, tak jarang akan mengganggu keuangan dan operasional perusahaan.


Sumber:

1. DEWI, IAMS. Manajemen resiko. UNHI PRESS 2019

2.  Asuransi Jasindo, Jenis jenis resiko 6 oct 2020

3. Maralis R & Triyono A, Manajemen resiko, Deepublish Publisher 2019

4. Ajaib

5. Jurnal by Mekari

6. Makalah XYZ , Pengendalian resiko, 2019

Julius

Finance & IT Enthusiast - Finance at start up company who interested in IT, Investing, and Business. Follow our media social to get latest update.

Leave a Reply