Saat Pandemi Tarif PPN Naik Jadi 11%? Apa Dampaknya?

Tarif Pajak Pertambahan Nilai (PPN) direncanakan akan mengalami kenaikan sebesar 1%, yakni dari 10% menjadi 11% mulai 1 April 2022.

Hal ini sudah diatur dalam UU No.7 tahun 2021 tentang Harmonisasi Peraturan Perpajakan (HPP).

Kenaikan tarif PPN ini ditujukan untuk meningkatkan penerimaan negara dalam memenuhi kebutuhan masyarakat terdampak Covid-19, seperti vaksin, bantuan sosial dan sebagainya.

Hal ini juga didukung dengan adanya data bahwa tarif PPN di Indonesia masih dibawah rata-rata global, yakni 15,4%.

UU HPP ini mengubah pasal 7 ayat 2 Undang-Undang No.42 tahun 2009 mengenai tarif PPN sebesar 10% menjadi 11% dan secara bertahap akan meningkat lagi sebesar 12% pada Januari 2025.

Tujuan dari Kenaikan Tarif PPN Menjadi 11%

Sebelum kita lanjut mengenai tujuan dari kenaikan PPN, perlu kita ketahui apa peran PPN pada pereknomian di Indonesia.

Secara umum, penerimaan PPN dapat dibandingkan dengan daya beli masyarakat. Hal ini dikarenakan PPN merupakan pajak atas konsumsi barang dan jasa.

Namun bukan berarti penerimaan PPN akan sebanding lurus dengan daya beli masyarakat, mengapa demikian? karena PPN bukan semata-mata cerminan konsumsi melainkan juga proses produksi yang membutuhkan pembelian bahan baku.

Meski demikian, tidak dipungkiri bahwa peningkatan konsumsi masyarakat tetap memberikan kontribusi dalam pencapaian penerimaan PPN, sehingga pemerintah tetap harus melakukan upaya untuk meperbaiki daya beli masyarakat.

Salah satu upaya yang dapat dilakukan adalah mengendalikan inflasi, tujuannya adalah untuk menjaga stabilitas harga agar tetap terjangkau dan mampu dibeli oleh masyarakat.

Lalu mengapa pemerintah memutuskan untuk menaikan tarif PPN menjadi 11%? Sedangkan kita ketahui, jika tarif PPN naik maka hal ini akan menyebabkan kenaikan harga pada barang maupun jasa dan pastinya ini mempengaruhi pada daya beli masyarakat.

Berikut merupakan tujuan kenaikan tarif PPN:

Tarif PPN di Indonesia saat ini masih rendah dibandingkan dengan banyak Negara lain di Asia

Keputusan Pemerintah untuk menaikan tarif PPN menjadi 11% salah satunya adalah lantaran karena tarif PPN di Indonesia saat ini masih rendah dibandingkan dengan banyak negara lain di Asia.

NegaraVAT Rates (%)
Filipina12%
Turki18%
Mexico16%
China13%
Indonesia10%
Argentina21%
Spanyol21%
Italia22%
Arab Saudi15%
India18%

Pemulihan perekonomian Indonesia terdampak pandemi Covid-19

Sejak terjadinya pandemi Covid-19, seluruh dunia mengalami penurunan ekonomi. Bahkan banyak negara melakukan lockdown dan memberikan konsekuensi pada perekonomian yang langsung merosot tajam.

Dimana saat pandemi, pemerintah juga telah memberikan ‘vitamin’ bagi pelaku usaha dan masyarakat berupa insentif pajak. Yang diharapkan agar semua kalangan masyarakat tetap bisa bertahan dalam kondisi pandemi.

Berikut juga pemerintah telah membantu memenuhi kebutuhan masyarakat terdampak Covid-19, seperti vaksin, bantuan sosial dan sebagainya.

Maka saat pemerintah melihat adanya momentum dari pemulihan perekenomian di banyak negara termasuk Indonesia, pemerintah memutuskan untuk melakukan konsolidasi fiskal dan mengembalikan defisit kebawah 3% pada tahun 2023 yang harus dimulai dari tahun 2021 ini.

Terutama dengan menggenjot penerimaan pajak salah satunya dengan kenaikan tarif PPN yang dirasa wajar di tengah peningkatan ekonomi saat ini.

Namun banyak pihak yang meminta agar kenaikan tarif ini ditunda, dikarenakan masih dalam masa pandemi.

Walaupun kenaikan tarif PPN ini sudah dipertimbangkan dan diperhitungkan oleh pemerintah, namun pastinya tetap akan memberikan dampak kepada seluruh lapisan masyarakat

Dampak Apa Saja yang Terjadi Jika Tarif PPN Naik Jadi 11%?

Menaikkan PPN di tengah pemulihan ekonomi yang terdampak akibat Covid-19 pada saat ini menuai banyak pro dan kontra dari masyarakat di semua kalangan.

Dalam hal ini kenaikan tarif PPN juga akan menjadi boomerang bagi pemerintah. Sebab, bukannya meningkatkan perekonomian justru akan memperburuk laju ekonomi yang menyebabkan pertumbuhan ekonomi di Indonesia bisa kembali melambat.

Kenaikan tarif PPN bertepatan dengan bulan Ramadhan

Sebagaimana diketahui, bulan April 2021 memasuki bulan suci Ramadhan. Lazimnya pada setiap tahun, selalu terjadi peningkatan harga akibat aktivitas belanjan di Ramadhan dan perayaan Lebaran. Jika kenaikan tarif PPN benar akan direalisasikan pada 1 April 2021, maka besar kemungkinan persentase kenaikan harga menjadi lebih besar daripada tahun-tahun sebelumnya.

Kenaikan Tarif PPN disaat terdapat ketegangan di Eropa Timur

Konflik antara Rusia dan Ukraina yang masih berlangsung saat ini dapat mengakibatkan melonjaknya harga minyak mentah dan gas alam dunia. Peningkatan harga kedua komoditas tersebut sering kali memicu kenaikan harga barang dan jasa lainnya.

Oleh karena itu, nantinya pada April 2021, diprediksi kenaikan harga bisa jadi sebuah keniscayaan. Maka pemerintah perlu memitigasi resiko kenaikan harga yang akan terjadi, terutama kaitannya dengan penyesuaian tarif PPN.

Akan menurunkan daya beli masyarakat

Seharusnya di saat seperti ini pemerintah masih meneruskan dukungan dengan tetap memberikan insentif pajak, bukan malah menaikkan tarif pajak.

Karena jika tarif PPN dinaikkan, tentunya ini akan mempengaruhi terhadap harga barang dan jasa yang dibutuhkan oleh masyarakat.

Masyarakat jadi harus lebih kompetitif terhadap harga barang yang akan dibeli, atau jadinya harus mengurangi daya beli terhadap barang tersebut. Hal ini tentunya akan menambah tekanan inflasi.

One thought to “Saat Pandemi Tarif PPN Naik Jadi 11%? Apa Dampaknya?”

Leave a Reply